![]() |
| Sejumlah demonstran yang tergabung dalam 'Pemberontakan Kepunahan' (Extinction Rebellion) memblokir jalan saat berunjuk rasa di Potsdamer Platz di Berlin, Jerman, Selasa (8/10/2019). Unjuk rasa tersebut menuntut pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam menangani perubahan iklim. Unjuk rasa juga terjadi di beberapa tempat di dunia. | REUTERS/Christian Mang |
Baru-baru ini telah terjadi aksi mogok makan yang dilakukan oleh Kelompok protes Extinction Rebellion. Aksi ini telah dilakukan lebih dari 300 aktivis di 26 negara.
Melansir dari laman Akurat, kelompok ini melakukan aksi tersebut dalam rangka meningkatkan tekanan kepada pemerintah di seluruh dunia agar segera bertidnak dalam darurat iklim ekologis.
Negara yang mengikuti aksi mogok makan sejak Senin (18/11) yaitu Inggris, Selandia Baru, Nigeria, Pakistan, Polandia, dan Spanyol.
“Mogok makan adalah salah satu hal yang dapat kami gunakan yang tak dapat diambil,” papar Angus Rose, pengembang software berumur 50 tahun dari Afrika Selatan.
Rose telah cuti kerja untuk mengikuti aksi mogok makan tersebut. Dan menurutnya, jika ada orang yang ditahan, maka orang itu akan terus melanjutkan mogok makannya.
Unjuk rasa pada Oktober mengakibatkan lebih dari 2.500 orang ditahan di penjuru dunia, termasuk 1.700 orang di Inggris. Dan tentunya para aktivis menyatakan siap ditahan karena dianggap melanggar aturan oleh kepolisian.
Bahkan dengan nekat, mereka banyak yang melakukan aksi memblokir jalanan ibu kota, kompleks pemerintahan, lembaga keuangan, dan kantor pusat raksasa media sosial.
Extinction Rebellion menggunakan pembangkangan sipil untuk meningkatkan kesadaran pada pemanasan global akibat ulah manusia di penjuru dunia.
Sumber: Akurat.co

Komentar
Posting Komentar